YANG NYARIS TERLUPAKAN …….!!!

Posted on Updated on


kenapa-awal-puasa-sering-bedaTak terasa memang, sebulan penuh kita di bulan Ramadhan yang lalu telah diberi fasilitas oleh Allah untuk mengolah kesadaran kita dengan tujuan agar kita bisa menggali kesejatian diri kita, sehingga pada akhir bulan penuh rahmat itu kita benar-benar bisa menyadari kefitrahan diri kita yang sama dengan fitrah Allah. Ya…, dalam waktu sebulan itu kita memang telah dimudahkan oleh Allah agar pada akhirnya kita mampu berada dalam posisi kefitrahan diri, ‘idul fitri.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
(Ar Ruum 30)

Akan tetapi saat kita mencoba untuk memahami tentang suasana seperti apa itu yang disebut sebagai suasana kembali menjadi fitrah yang sama dengan fitrah Allah itu…, maka jawaban yang umum yang akan kita dapatkan adalah bahwa kita di akhir puasa itu akan kembali suci seperti bayi.

Atau ada pula orang yang tidak sreg dengan ungkapan kembali menjadi SUCI itu, karena dia menganggap bahwa yang suci itu hanya Nabi…. Yang ada menurut mereka adalah bahwa setelah puasa itu kita kembali menjadi patuh mengikuti syariat yang telah diturunkan Allah melalui Rasulnya. Hal ini cocok benar dengan ayat al Qur’an:

“dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang MUSYRIK (mempersekutukan Allah)” (Ar Ruum 31).

Maka pada hari raya, dalam khotbah-khotbah shalat IED, kita akan mendengarkan istilah kembali ke fitrah dari mulut para khatib meluncur dengan sangat lancarnya. Harapan-harapan agar kita bisa menjadi orang yang bertakwa seperti halnya juga diterima taubatnya dan khusyuk shalatnya pun akan dihembuskan kepada kita seperti semilir angin syurga. Dan kita dengan khusyu’ mendengarkannya walau diselingi pula dengan sikap terkantuk-kantuk kita yang akut. Dengan sama lancar dan gampangnya kita juga akan saling mengucapkan maaf dan selamat kembali ke fitrah yang kita kirimkan kepada karib kerabat kita baik melalui kartu-kartu ucapan maupun es em es.

Akan tetapi begitu hari lebaran berlalu, dan kita kembali hidup dalam keseharian kita, maka kita akan menjadi terheran-heran dengan amat sangat. Bahwa ayat ke 32 surat Ar Ruum segera saja membayang-bayangi kita dengan kecepatan yang sangat mengagumkan dan tingkat kepastian yang sangat tinggi untuk memotret ketersasaran kita menjadi orang-orang yang musyrik dengan ciri-ciri sebagai berikut:

“yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.

Duh Gusti…, ada apa ini gerangan…?. Selalu saja puasa demi puasa kami lalui dari tahun ke tahun dengan hasil yang nyaris sama saja. Kami hanya sekedar mendapatkan haus dan lapar…, tak lebih dan tak kurang.

Fasilitas Yang Terabaikan…

Selama bulan puasa, pada siang hari, kita tidak diperbolehkan untuk makan, minum, melakukan hubungan sex antara suami istri. Begitu juga…, kita selalu saja disadarkan bahwa kita sedang berpuasa saat mana ada dorongan dari otak kita kepada mata, telinga, dan mulut untuk memandang, mendengar dan berucap yang tidak baik. Bahkan saat dada kita dialiri oleh rasa ingin benci, marah, iri, dengki, dan rasa-rasa negatif lainnya, kita juga disadarkan bahwa kita saat itu tengah berpuasa.

Belum lagi iming-iming Allah tentang rentang sepuluh hari awal, tengah, dan akhir yang penuh dengan ampunan, rahmat, dan berkah Tuhan atas segala amalan-amalan yang kita lakukan. Dan pada puncaknya Allah juga telah menyiapkan sebuah malam yang penuh dengan manfaat dan keselamatan yang suasananya melebihi seribu bulan yang lainnya, yaitu Lailatul Qadar yang menggetarkan dan mempesona siapapun yang dibawa masuk oleh Allah ke dalam suasananya.

Sungguh sebuah fasilitas luar biasa yang telah disiapkan oleh Allah sebagai sarana bagi kita umat manusia ini untuk menggapai kefitrahan diri diakhir bulan Ramadhan dan diharapkan akan berlanjut terus di bulan-bulan lainnya sampai bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.

Sebuah fasilitas yang mampu memutar roda momentum ketuhanan yang telah digulirkan oleh Allah untuk menyapa dan membawa manusia-manusia yang mau dan bersedia bertengger pada daya-daya ketuhanan yang sungguh sangat perkasa, lembut, dan tak terbatas.

Subhanallah…!
Alhamdulillah…!
Laa ilaha illa Allah…!
Allahu Akbar…!

Akan tetapi sungguh sangat sedikit pula umat manusia ini yang mau menggunakan fasilitas istimewa ini dengan sebaik-baiknya untuk menggapai kefitrahan dirinya itu. Sampai-sampai Allah mengeluhkannya berkali-kali dalam surat Ar Rahman…; “fabiayyiaalaa irabbikumaa tukadzibaan…, maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ???”.

Astaghfirullahal adhiem…!.

Memasuki Kedalaman Makna…

Untuk memahami makna yang terkandung dalam syariat pelarangan makan, minum, dan berhubungan sex antara suami dan istri di siang hari selama bulan puasa, maka marilah kita amati diri kita dengan segala perilaku dan sifatnya yang kita hadapi dalam keseharian kita selama ini.

Kita mulai dengan makan dan minum…!. Dari hari ke hari, nyaris saja kita ini takluk, tunduk, dan berada dalam pengaruh untuk memenuhi dorongan makan dan minum. Kita mampu untuk makan dan minum apa saja…!. Kemampuan makan kita jauh melampaui perilaku seekor harimau yang hanya makan dan minum saat dia kelaparan dan kehausan.

Tidak hanya makanan dan minuman dalam arti yang sebenarnya, akan tetapi juga makanan dan minuman dalam arti yang sangat luas pun kemampuan kita sungguh sangat luar biasa. Kita mampu untuk makan semen dan baja berton-ton, makan tanah berhektar-hektar, dan makan kayu berpulau-pulau. Kita mampu pula untuk minum air berdanau-danau. Bahkan milik anak yatim pun kita makan dan minum dengan gagah perkasa. Ya…, kita nampaknya sanggup untuk “menggarap” sawah melebihi kemampuan seekor kerbau.

Begitu juga dengan dorongan seksual farji…!. Kita selama ini seperti berada dalam pengaruh dorongan nafsu seksual yang melebihi kemampuan kuda liar sumbawa ataupun mustang manapun. Kalaulah tidak ada batasan syariah dan pengaruh peradaban yang mengendalikan kita, maka mungkin saja kita ini akan mempunyai pasangan dimana-mana dan kapan saja.

Kemampuan makan dan minum apa saja serta dorongan pemenuhan kebutuhan farji itu tadi hampir-hampir saja tidak bisa kita kuasai lagi. Malah sebaliknya, kita yang berhasil dikuasai oleh dorongan-dorongan itu dengan sukses. Kita seperti selalu berada di dalam dan di bawah pengaruh dorongan untuk memenuhi segala kebutuhan-kebutuhan itu tadi tanpa mengenal batas-batas halal dan haram serta kepatutan. Posisi seorang manusia yang seperti ini dilabeli oleh Allah di dalam Al Qur’an sebagai seorang yang keberadaannya adalah seperti seekor binatang, bahkan lebih rendah dan lebih sesat lagi dari seekor binatang, “ula ika kal an’am bal hum adhal”.

Makanya kemudian adapula orang yang berusaha untuk mengendalikan dorongan makan, minum, dan sexual itu dengan cara “membunuhnya”. Ya…, mereka mencoba untuk mematikan semua itu dengan cara meditasi tertentu, pawasa (puasa) tertentu, bahkan menyepi di hutan-hutan dan goa tertentu selama bertahun-tahun lamanya. Cara seperti ini hanyalah dengan mengalihkan pengamatan atau objek fikir kita kepada yang lain selain makanan, minuman, dan hasrat seksual. Misalnya, dengan menjadikan sebuah titik ataupun aliran fikiran sebagai objek fikir kita di luar ketiga dorongan itu tadi. Akan tetapi hasil yang dicapai dengan cara-cara seperti ini sangat jauh dari fitrah manusia, yang dengan fitrah itulah manusia ini diturunkan Allah ke muka bumi ini. Fitrah itu adalah untuk membajak sawah, mengolah makanan dan minuman, serta untuk berkembang biak. Cara-cara dengan membunuh dorongan untuk makan, minum, dan keinginan seksual itu tadi malah akan membuat kita menjadi orang-orang yang tidak bersemangat kalau tidak mau dikatakan tidak berkemauan untuk membangun pabrik makanan dan minuman, mengolah sawah, dan sebagainya. Dan yang lebih tragis lagi adalah hilangnya keinginan kita terhadap lawan jenis kita…!.

Nah…, kalau kita ikut-ikutan pula berpuasa dengan cara-cara diatas, yaitu dengan cara menekan atau membunuh keinginan makan, minum dan syahwat farji seperti diatas selama berpuasa Ramadhan, maka sangatlah jauh panggang dari api, dan hasilnya pun tidak akan lebih baik dari puasa-puasa cara diatas. Padahal kita sangat hafal sekali dengan hadits yang mengatakan bahwa “Al Islam ya’luu walaa yu’laa alaihi, Islam itu tinggi, dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggiannya…”. Lalu tinggi dimananya yang bisa kita tawarkan kepada orang lain kalau HASIL dan DAMPAK yang kita capai dalam berpuasa ataupun ibadah-ibadah lainnya itu ternyata sama saja atau bahkan malah lebih rendah dari hasil dan dampak dari praktek agama-agama ataupun praktek olah “jiwa” lainnya. Ya…, tinggi dimananya …??.

Namun syukurlah…, ternyata konsep puasa dalam Islam bukanlah untuk membunuh dorongan keinginan makan, minum, dan syahwat farji itu tadi. Kita hanya diminta untuk menyadari bahwa saat itu kita tengah patuh kepada Allah dengan cara menjalankan puasa. Sejak malam harinya, kita sudah menanamkan afirmasi dan motivasi ke dalam otak kita bahwa besok pagi sampai sore harinya kita akan menjalankan ibadah puasa semata-mata hanya karena kepatuhan kita kepada perintah Allah.

Ya…, ada ALLAH nya sekarang yang menjadi ALAMAT tempat kita bersandar. Dan hasilnya sungguh mengagumkan sekali. Kita selama bulan puasa itu tidak usah capek-capek sedikitpun lagi untuk mengendalikan keinginan dan dorongan-dorongan untuk makan, minum dan syahwat farji di siang harinya. Pada waktu-waktu makan, minum di siang hari yang selama ini tidak bisa kita kendalikan, kita tidak lagi merasakan lapar dan haus. Begitu juga saat syahwat farji kita yang mungkin biasanya menggelora di siang hari, ada lho yang begini, banyak malah, maka kita tidak usah repot-repot lagi untuk mengendalikan dan menahan-nahan diri untuk keluar dari dorongan itu. Walaupun kadang-kadang muncul juga dorongan untuk makan, minum dan dorongan liar syahwat farji itu, namun kita tinggal menyadarkan diri kita saja bahwa “kita saat itu sedang berpuasa”, yang maknanya tidak lain adalah bahwa kita saat itu tengah tunduk dan patuh kepada Allah. Dan lalu kita sepertinya tinggal bersandar saja pada daya ketundukan dan kepatuhan kepada Allah yang memang sangat luar biasa itu, sehingga kita tidak lagi merasa capek sedikitpun menahan-nahan diri untuk keluar dari dorongan diri kita (hawa un nafs).

Hal yang sama juga berlaku dalam hal kita mengendalikan aliran-aliran yang mengalir melewati mata, telinga, mulut dan lidah kita. Selama ini…, mata kita liar kesana kemari memandang dan memandang tanpa batas. Apa saja kita pandang dan kita nikmati tak kenal halal dan haram. Telinga kita berkelana tanpa halangan untuk mendengarkan suara-suara tak bertepi. Apa saja kita dengarkan tak kenal benar atau salah. Dan yang lebih dahsyat lagi, mulut dan lidah kita juga liar dan brutal menebar kata dan ungkapan berupa gosip, ghibah, fitnah yang kadangkala sangat-sangat menyakitkan orang lain. Begitulah hari demi hari kita lalui. Kadangkala kita masih sempat untuk terheran-heran, “kok bisa ya kita bersikap begitu…?”. Tapi sayangnya kita hanya sekedar terheran-heran begitu saja, untuk kemudian kita kembali melakukannya dengan semangat 45.

Diatas kesemuanya itu, yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana dengan berpuasa kita bisa keluar dari dorongan buruk aliran kebencian, kedengkian, kemarahan, maupun dorongan berlebihan dalam hal kecintaan, kesenangan, dan dorongan-dorongan KEHENDAK NEGATIF maupun POSITIF lainnya kepada benda-benda atau makhluk Tuhan lainnya, yang mengalir ke dalam dada (sudur) kita.

Selama ini aliran kehendak di dada kita itu menarik-narik kita ke arah keinginan untuk membenci, memarahi, dan menyakiti orang lain. Nyaris saja kita mampu untuk membunuh orang lain melebihi kemampuan seekor binatang buas membunuh buruannya. Ya…, kita seperti dikuasai oleh naluri menyakiti dan membunuh jauh melampaui naluri yang dimiliki oleh binatang yang terbuas sekalipun. Dan anehnya, kesemuanya itu bisa kita lakukan dengan sejuta alasan yang masuk logika pula. Misalnya, ribuan orang di Irak dan Afganistan sana mati secara sia-sia dengan alasan yang nggak jelas juntrungannya, tapi hebatnya semua itu bisa dibuat begitu meyakinkan, yaitu dengan alasan melucuti senjata pemusnah massal dan membasmi terorisme. Ngeles saja sebenarnya kesemua alasan itu. Tapi ya…, itulah yang terjadi. Siapa yang teroris dan siapa yang bukan teroris sudah nggak jelas lagi. Terbolak-balik nggak keruan. Seperti maling teriak maling saja, sehingga orang yang tak bersalah yang akhirnya digebukin orang rame-rame.

Nah…, selama bulan Ramadhan, sepertinya kita dibuat mampu dengan mudahnya untuk mengendalikan dorongan liar yang mengalir dari otak kita menuju mata, telinga, mulut dan lidah kita maupun dorongan berbagai rasa yang mengalir melalui dada kita. Dan kembali kesemuanya itu hanya didasarkan atas kepatuhan kita kepada Allah dengan menyadari bahwa saat itu kita tengah berpuasa. Walau kadangkala kepatuhan itu munculnya adalah karena harapan kita akan pahala yang gede dari Allah selama bulan puasa itu…, ya ndak terlalu masalah sebenarnya, asal saja pada akhir Ramadhan posisi kefitrahan diri itu bisa kita raih.

Akan tetapi itulah sayangnya…, dengan fasilitas yang sangat sempurna selama bulan Ramadhan tersebut, dimana kita tidak usah capek-capek lagi mengendalikan dorongan untuk makan, minum, dan syahwat farji yang tak terkendali, maupun mengendalikan dorongan liar yang mengalir dari otak ke mata, ke telinga, ke mulut, ke lidah, dan ke dalam dada kita, eee… malah kita tidak mampu sedikitpun bangkit dalam menggapai posisi kefitrahan diri yang kita idam-idamkan.

Ciri-cirinya gampang saja kok untuk membedakan apakah kita ini berhasil atau tidak dalam menggapai posisi diri yang fitrah itu, yaitu adakah perubahan yang luar biasa terjadi pada perilaku kita sehari-hari pasca puasa Ramadhan yang kita laksanakan selama sebulan penuh itu…?. Dan ciri-ciri yang tak kalah dahsyatnya adalah…, dituntun dan ditarok nggak kita oleh Allah untuk masuk dan menikmati satu malam yang kadarnya lebih mulya dari seribu bulan. Suasana Malam Lailatul Qadar…?. Ya…, Lailatul Qadar yang penuh kemulyaan itulah.

Kalau tidak ada ciri-ciri seperti diatas yang menghampiri kita pada bulan Ramadhan yang lalu dan hari-hari setelahnya, maka tidak ada salahnya kalau kita mau mengakui kegagalan kita dalam berpuasa pada tahun ini, sehingga boleh jadi selama Ramadhan tersebut kita berpuasa hanya untuk sekedar mendapatkan rasa lelah, capek, haus, dan lapar semata. Ya…, seperti puasa kita yang lalu-lalulah.

Tapi wait…, wait…, wait…, apa hubungannya posisi DIRI yang FITRAH dengan suasana Malam Seribu Bulan, Lailatul Qadar itu… ???. Mari kita lanjutkan mengupas kulit ramadhan ini dengan perlahan-lahan sekali.

Loncatan Yang Terlupakan…

Dengan leremnya secara “gratis” dorongan-dorongan untuk makan, minum, dan syahwat farji, begitu juga dorongan aliran liar yang melalui mata, telinga, mulut, lidah, dan aliran rasa melalui dada di siang hari selama bulan Ramadhan, maka sebenarnya ketika itulah saat yang paling tepat bagi kita untuk meloncatkan kesadaran kita setingkat lebih tinggi lagi dari sebelumnya. Melalui sedikit pengamatan saja, maka kita dengan mudah akan menyadari bahwa: “ooo…, ternyata yang butuh makan, minum, dan syahwat farji itu adalah instrumen atau alat saya saja; ooo…, mata, telinga, mulut, lidah dan sudur (hati) berikut dengan segala sifat dan dorongannya itupun ternyata hanyalah instrumen saya juga; dan saya ternyata ‘terpisah’ dari seluruh instrumen saya tadi itu”.

Kalau begitu…, lalu substansi macam apakah saya ini sebenarnya…?. Dan apakah fungsi dari seluruh instrumen saya itu tadi yang selama ini telah menjadi tuan atas diri saya sendiri…?.

Selama ini saya seperti terseret-seret oleh semua instrumen saya itu yang seperti punya kekuatan yang sangat besar untuk menarik-narik saya kian kemari. Ya…, saya selama ini saya ibarat seorang kusir yang tidak memegang kendali atas kuda delman saya. Rasanya selama ini saya sedang duduk dan tiduran saja diatas sebuah delman, sementara sang kuda berlari kian kemari mengikuti nalurinya sendiri tanpa bisa saya kendalikan sedikitpun. Kuda macam apa ini yang larinya begitu liar dan kuat sekali…?.

Delman dan Sang Kuda-kuda perkasa…

Untuk mengenali lebih jauh hubungan antara kita dengan delman dan kuda-kuda penariknya itu, maka marilah kita naikkan lagi kesadaran kita untuk menjadi seorang pengamat atas delman dan kuda-kuda yang menariknya kesana-sini dalam keseharian kita.

Ooo…, ternyata kuda pertama yang menarik delman yang kita kendarai ternyata adalah kuda “ammarah” (Nafsul Ammarah). Yaitu kuda yang selalu saja menarik-narik delman yang sedang kita tumpangi menuju arah keburukan, arah kemarahan, arah kedengkian, arah keangkaramurkaan. Makan, minum, syahwat farji, mata, telinga, mulut, lidah dan dada selalu saja ditarik-tarik ke arah pemenuhan tanpa batas kalau tidak mau dikatakan sebagai ketidakbaikkan.

Kuda kedua yang menarik-narik delman yang kita kendarai ternyata adalah kuda “lawwamah” (Nafsul Lawwamah), yang selalu saja menarik delman kearah pencelaan-pencelaan dan penyesalan-penyesalan. Apa saja dicela, lalu kemudian apa saja juga disesali. Makan, minum, syahwat farji, mata, telinga, mulut, lidah dan dada kita selalu saja ditarik-tarik sang kuda lawwamah untuk mencela kesana sini dan kemudian lalu menyesal kembali. Sungguh sebuah suasana yang melelahkan sekali saat mana kita harus mondar-mandir ditarik oleh sang kuda ke wilayah suasana ketercelaan dan kemudian kembali menaburkan penyesalan, lalu mencela lagi, lalu menyesal lagi…!.

Kuda ketiga yang tak kalah kuatnya menarik kereta delman kita adalah kuda “Sufiyah” (Nafsul Sufiyah), yang selalu saja berlari menuju wilayah yang penuh dengan rasa cinta dan kasih yang dalam. Sehingga sang kuda sufiyah menarik-narik kita dengan liar untuk mencintai dan mengasihi apa saja. Sang kuda menarik-narik dan membawa kita sepanjang hidup kita untuk mencintai dan mengasihi benda-benda mati (seperti keramik tua, kristal antik, dan sebagainya), binatang ternak (seperti ikan, ayam, burung, anjing, kucing, kuda, dan sebagainya), harta benda, teman-teman, saudara-saudara, anak dan istri kita. Sehingga kita pun kemudian menjadi budak kesemuanya itu. Hari-hari kita pun lalu akan dikuasai penuh oleh apa-apa yang kita cintai itu.

Bahkan sang kuda membawa kita untuk mencintai Tuhan nyaris sama dengan cara kita mencintai ciptaan-Nya. Padahal sebesar apapun cinta kita kepada Tuhan, maka hasilnya pastilah salah. Karena tidak mungkinlah kita bisa memakai instrumen yang hanya bisa dipakai mencintai makhluk Tuhan lalu kita pakai pula untuk mencintai Tuhan Sang Pencipta sang makhluk. Nggak…, nggak akan pernah bisa…!. Dan kalau kuda sufiyah ini kalau dibiarkan melenggang dengan liar untuk mencintai Tuhan, maka hasilnya kebanyakan kalau tidak mau dikatakan semuanya adalah orang-orang yang akan menjauhi atau melalaikan tugasnya sebagai khalifah Tuhan dalam membangun peradaban umat manusia di dunia ini.

Terakhir…, kuda keempat yang menarik delman dengan sangat kuat adalah kuda “muthmainnah” (Nafsul Muthmainnah). Kuda ini akan berlari kencang membawa kita ke wilayah kebahagiaan, ketenangan, dan keluasan yang amat sangat. Al Qur’an mengisyaratkan wilayah yang dituju oleh sang kuda adalah sebagai wilayah yang dekat dengan Tuhan, dimana kemudian Tuhan akan menaroknya kembali ke wilayah yang disebut sebagai wilayah beraroma syurga bersama-sama dengan kuda-kuda muthmainnah lain yang ditumpangi oleh orang-orang shaleh lainnya.

Kuda muthmainnah inipun kalau dibiarkan berlari sendirian tanpa kendali, liar, maka bawaannya juga adalah untuk selalu berada dalam wilayah ketenangan, kebahagiaan, dan keluasan itu yang dalam istilah agamanya mungkin bisa disebut sebagai suasana “mi’raj”. Saking betahnya sang kuda di wilayah damai itu, maka tidak jarang pula orang yang ditarik oleh sang kuda muthmainnah ini dengan sangat kuat akan bersikap seperti seorang suci bersikap. Dan yang namanya orang suci, pastilah sedikit banyaknya dia akan merasa benar sendiri dan akan menyalah-nyalahkan orang lain kalau orang lain itu tidak seirama dengan dia. Karena dia merasa benar sendiri, maka biasanya fungsi kekhalifahannya di dunia ini untuk membangun peradaban manusia di dunia ini juga bisa terganggu.

Demikianlah…, keempat kuda yang menarik delman yang kita tumpangi telah kita kuliti dengan ringkas. Dan ternyata selama ini kuda-kuda itu kita biarkan berlari sekehendak hatinya sendiri-sendiri. Dan fitrahnya sang kuda-kuda tersebut memanglah begitu. Kita, sang kusir, tetap saja tertidur lelap atau sedang duduk terbengong-bengong diatas delman dan dengan tali kendali yang lepas pula. Sehingga akibatnya sang kuda dengan silih berganti membawa sang kusir ke wilayah fitrah tujuan masing-masing kuda itu secara silih berganti. Secara kasar sang kuda menarik dan memindahkan kita dari satu wilayah ke wilayah lainnya dengan kasar. Terbolak-balik begitu.

Kadang kita di bawa ke wilayah kemarahan dan kedengkian yang amat sangat, lalu besoknya kita dibawa ke wilayah penyesalan yang amat sangat, sehingga dada kita sesak nggak keruan dibuatnya, lalu esoknya lagi mungkin kita ditarik untuk marah-marah dan dengki lagi. Lalu esoknya lagi kita dibawa ke wilayah kecintaan dan kerinduan yang amat sangat kepada ‘sesuatu’ yang menguasai atau mendominasi perhatian kita, setelah itu mungkin kita masuk kembali ke wilayah marah-marah dan kemudian menyesal lagi. Atau bisa pula langsung kecemplung ke wilayah ketenangan dan kedamaian untuk beberapa lama, untuk kemudian kita ditarik lagi ke wilayah kemarahan, mencela, dan penyesalan lagi, cinta lagi, tenang lagi…, dan seterusnya.

Begitulah…, sang kuda-kuda yang berlari liar tak terkendali itu telah membawa sang kusir untuk masuk ke wilayah yang selalu terbolak-balik dari hari ke hari. Suasana atau sifat terbolak baliknya wilayah yang dimasuki oleh sang kusir itu disebut juga dengan istilah QALBU. Jadi terbolak-baliknya sifat yang dibawa oleh masing-masing sang kuda itu tadi adalah sebuah keniscayaan saja sebenarnya. Sudah fitrahnya memang begitu…!.

Lho…, lho…, lho…, kok sekarang seperti menjadi nyata begitu ya…?. Itu ada kereta delman yang sedang oleng ditarik kian kemari oleh empat ekor kuda gagah perkasa yang berlari liar lepas tak terkendali. Sementara kita, sebagai sang kusir, hanya bisa menonton saja tidak tahu apa yang akan kita kerjakan untuk mengendalikan laju dan arah tujuan kereta delman itu. Ya…, kita sang kusir hanyalah bisa berdiam diri seribu bahasa sambil terheran-heran dan bertanya-tanya, “Kenapakah gerangan bisa begini, kenapa…?”. Lalu kita hanya bisa mengikuti saja kekuatan sang kuda-kuda perkasa itu berlari membawa kita kesana kemari. Sebuah posisi yang melelahkan dan menyiksa saja sebenarnya.

Kalau begitu bagaimanakah interaksi yang seharusnya terjadi antara sang kusir, delman, dan kuda-kuda penariknya agar supaya arah dan tujuan yang akan dicapai itu tepat sesuai dengan maksud awal penciptaan umat manusia ini…?.

Kekuatan macam apakah yang bisa membangunkan sang kusir dari istirahat panjangnya selama ini sehingga sang kusir kemudian bisa menyadari siapa dirinya, atau tepatnya siapakah sang kusir ini sebenarnya…?.

Lalu apakah untuk mengendalikan kuda-kuda yang sedang berlarian dengan licah dan penuh tenaga itu mereka harus dibunuh terlebih ataukah diapakan…?.

Dan yang lebih menarik lagi adalah sentuhan macam apakah yang akan mampu menyelaraskan larinya kuda-kuda itu, sehingga akhirnya kereta delman mampu berjalan membawa sang kusir ketempat tujuannya dalam sebuah harmoni gerak yang selaras dan sesuai dengan kehendak sang pencipta…?.

Sungguh ini sebuah bahan renungan yang sudah berumur sangat panjang, sepanjang umur peradaban manusia itu sendiri.

Akan tetapi saat ini, pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah menjadi sangat sulit untuk kita dapatkan jawabannya secara sederhana. Karena sejak sudah berbilang zaman berlalu, akumulasi pengetahuan baik tertulis maupun verbal yang masuk ke ruang-ruang otak kita sungguh sangat beragam sekali, sementara realitasnya sangat minim bisa kita rasakan dan pahami. Sehingga kita lebih banyak bengongnya dari pada mengerti akan kesemuanya itu. Oleh sebab itu marilah kita lanjutkan pengamatan kita dengan lebih cermat lagi…!.

KISS (Keep It Simplest Stupid) …

Secara umum saja, saat kita berbicara tentang delman, maka sebuah delman tidaklah dikatakan delman tanpa adanya kuda yang menariknya. Oleh sebab itu, agar lebih memudahkan saja, maka saat kita berbicara tentang sebuah DELMAN, maka saat itu pula kesadaran kita haruslah sudah berada pada kereta delman itu sendiri lengkap dengan kuda-kuda yang menariknya, dan tali kendali yang melekat pada masing-masing kuda itu. Biarlah kereta delman itu berwarna-warni dan kuda-kuda yang menariknya juga mempunyai beragam sifat dan naluri pula. Biarlah begitu…, karena memang fitrah sang delman memang sudah dipersiapkan seperti itu. Kesemuanya itu adalah fasilitas yang telah dipersiapkan oleh Tuhan untuk dinaiki, dikendalikan, dan diarahkan oleh seorang kusir untuk melaksanakan tugas-tugas ketuhanan dipermukaan bumi. Karena sang kusir memang adalah wakil istimewa Tuhan yang mengemban tugas untuk merangkai peradaban dipermukaan bumi untuk waktu tertentu.

Ya…, secara cepat, sekarang hanya tinggal dua substansi saja lagi yang akan menjadi bahan pencarian kesadaran kita, yaitu Sang Kusir dan Sang Delman. Sekarang menjadi jelaslah interaksi antara Sang Kusir dan Sang Delman. Kusir adalah sang pengendali delman. Delman adalah kendaraan atau alat yang dengannya sang kusir dapat berjalan merangkai hari-harinya sebagai duta istimewa Tuhan. Sang kusir tidak akan dapat melakukan tugasnya tanpa sang delman. Begitu juga sang delman tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya sang kusir yang akan mengendalikan dan memanfaatkannya.

Segala seluk beluk tentang sang delman sudah kita bahas dengan cukup lengkap pada bagian sebelumnya. Sekarang kita hanya tinggal memusatkan perhatian kita kepada Sang Kusir. Secara sepintas kita dapat mengamati bahwa sang kusir pastilah substansi yang tidak sama dengan sang delman. Pasti itu…!. Namun …, masih cukup sulit bagi kita untuk mengetahui seluk beluk tentang Sang Kusir ini dengan cepat, karena untuk itu pada hakekatnya adalah kita ingin mengenal hakiki siapa diri kita sendiri.

Akan tetapi dengan puasa, untuk memahami sang kusir itupun kita nggak usah capek-capek lagi. Kita tinggal mengamati saja ibadah puasa yang telah kita lalui beberapa waktu yang lalu. Pastilah puasa yang kita lakukan itu mempunyai makna dan tujuan yang sangat besar bagi kita. Nggak mungkinlah puasa itu tidak bermakna sama sekali. Masak sih puasa itu hanya untuk menahan lapar, haus, dan syahwat seksual disiang hari saja, nggak ada makna lainnya…!. Nggak lah…!.

Buah Dari Puasa…

Pada bagian awal artikel ini kita sudah dibawa kepada kesadaran bahwa saat kita berada dalam kepatuhan dalam menjalankan perintah Allah untuk berpuasa, maka ternyata dorongan-dorongan yang ada di tubuh kita, seperti rasa lapar, rasa haus, dan nafsu syahwat farji disiang hari dengan sendirinya bisa lerem. Begitu juga dengan keinginan-keinginan liar untuk menggunakan mata, telinga, mulut, lidah, dan berkecamuknya perasaan di dalam dada kita, bisa pula lerem dengan sangat mudahnya.

Leremnya instrumen-instrumen kita selama kita menjalankan puasa inilah nikmat yang memang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kita agar kita dengan mudah mampu menyadari bahwa tentang siapa diri kita sebenarnya.

Tepatnya puasa yang kita jalankan sebulan penuh itu, tujuan akhirnya adalah untuk melakukan penyadaran bahwa ternyata hakikinya kita tidak makan, kita tidak kita minum, kita tidak tidur, dan kita juga tidak syahwat farji. Tapi kesemuanya itu adalah kendaraan kita saja, sama halnya juga dengan telinga, mata, mulut, lidah dan dada kita. Dan semuanya selalu ditarik oleh empat ekor kuda seperti yang telah diterangkan diatas.

Dan setelah itu, sebenarnya, kita tinggal selangkah saja lagi untuk menjemput kesadaran baru tentang siapa kita ini yang sebenarnya. Dan inilah jawabannya, bahwa:

Kita adalah Sang Ruh Suci yang diutus ke muka bumi oleh Tuhan dengan membawa kereta delman yang telah diperlengkapi pula dengan empat ekor kuda tadi untuk menjalankan tugas-tugas kekhalifahan kita.

Dan KESADARAN RUH inilah sebenarnya target yang diharapkan bisa dicapai oleh orang-orang yang berpuasa selama bulan Ramadhan. Karena Sang RUH inilah KUSIR yang diutus oleh Allah ke muka bumi dengan membawa kendaraan empat ekor kuda (Nafsul Ammarah, Nafsul Lawwamah, Nafsul Sufiyah, dan Nafsul Muthmainnah) untuk mewakili Allah dalam mengembangkan peradaban dan hukum-hukum Tuhan di bumi ini.

Sang RUH inilah yang diberi tugas oleh Allah untuk memegang tali kendali kuda-kuda gagah perkasa tersebut agar semua potensi kuda-kuda tersebut bisa dipergunakan sesuai dengan Kehendak Allah. Keempat ekor kuda yang dikendalikan oleh AR RUH itu akan bergerak, akan hidup, dan akan berkarya dalam sebuah harmoni kehidupan yang sangat indah sesuai dengan kehendak Allah.

Jadi ke empat kuda tersebut bukannya malah di bunuh, bukannya malah dimarahi oleh Sang Kusir, akan tetapi lihatlah mereka dengan kasih sayang, siramilah mereka dengan rahmat Tuhan yang memang sudah berada dalam genggaman Sang Kusir. Sehingga Sang Kuda akan dapat kita manfaatkan untuk mencapai sasaran tugas kekhalifahan yang dibebankan Allah kepada kita.

Kuda Ammarah yang sudah dialiri oleh rahmat Tuhan akan mampu untuk membangun gedung-gedung tinggi, ilmu, dan teknologi yang mencengangkan. Karena sang kuda memang telah dibekali oleh Tuhan dengan semangat, daya, dan kekuatan yang sangat dahsyat untuk mewujudkan tugas-tugas pembangunan peradaban yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Sang Kusir akan memakai daya kekuatan MARAH Sang Kuda yang sudah DIRAHMATI Tuhan tanpa Sang Kusir ikut marah-marah. Marah Sang Kusir adalah dalam kerangka hukum-hukum untuk menuju kebaikan. Sang Kusir akan memakai daya kekuatan IRI dan DENGKI Sang Kuda yang sudah DIRAHMATI Tuhan untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik dari yang sudah ada tanpa Sang Kusir ikut iri dan dengki pula.

Kuda Lawwamah yang sudah dialiri rahmat Tuhan pun akan mampu untuk selalu mencari hal-hal yang terbaik sebagai solusi atas semua persoalan hidup yang bakal dihadapi oleh umat manusia. Sang Kusir akan memakai daya kekuatan pencelaan dan penyesalan Sang Kuda yang sudah dirahmati Tuhan itu untuk mendapatkan jawaban-jawaban terbaru atas segala problematika kehidupan kita, akan tetapi Sang Kusir tidak ikut terperosok ke jurang pencelaan dan penyesalan sedikitpun atas apa-apa yang terjadi.

Kuda Sufiyah yang sudah ditaburi dengan rahmat dan berkah dari Tuhan juga akan mampu untuk mendapatkan kualitas yang prima baik itu untuk benda-benda maupun untuk hubungan antar sesama manusia. Sang Kusir akan memakai daya kekuatan cinta kasih Sang Kuda yang sudah dirahmati Tuhan untuk mendapatkan sebanyak mungkin benda-benda terbaik, sahabat-sahabat terbaik, dan apapun yang dapat merasakan cinta kasih Sang Kuda. Akan tetapi atas semuanya itu, Sang Kusir tidak sedikitpun terperangkap oleh rasa cinta kasih kepada semua yang dicintai oleh Sang Kuda tadi itu. Sang Kusir tetap tidak terpengaruh sedikitpun.

Begitu juga…, Kuda Muthmainnah yang sudah di siram dengan rahmat dari Allah akan mampu untuk memberikan kedamaian kepada bumi dan segala isinya tempat dimana dia berada. Sang Kusir akan memakai daya kekuatan bahagia dari Sang Kuda yang sudah dirahmati Tuhan itu untuk menciptakan kedamain, kebahagiaan, ketenangan, ketenteraman, keluasan suasana, tanpa Sang Kusir terlena dalam ketenangan, ketenteraman, dan kediaman itu.

Begitulah tugas Sang Kusir (AR RUH), yang selalu berada dalam posisi pengendali kuda-kuda gagah perkasa itu tanpa Sang Kusir terbelenggu sedikitpun dengan segala tingkah polah sang Kuda-kuda tersebut. Sang Kusir selalu DIATAS kesemuanya itu. Dan ternyata Sang Kusir mengendalikan kuda-kuda tersebut hanyalah dengan memakai Tali Rahmat, dan Berkat dari Tuhan. Karena memang AR RUH sangatlah dekat dengan Tuhan. Sampai-sampai Tuhan memanggil Sang RUH dengan sebutan RUH-KU (MIN-RUHI).

Kalaulah kita sadar akan fungsi kita sebagai Kusir seperti ini, maka saat itulah kita akan mencapai kesempurnaan sebagai wakil Tuhan, sebagai Duta Istimewa Tuhan dimuka bumi ini. Karena kalau Sang Kusir tidak seperti ini, maka yang akan bekerja adalah keempat ekor kuda tadi dengan liar dan saling tarik-menarik tak tentu arah. Ya…, seperti yang terjadi selama inilah jadinya.

Kehebatan AR RUH seperti inilah yang telah membuat malaikat sujud kepada Adam saat penciptaan Adam dihadapan para malaikat dulu. Karena malaikat menyadari bahwa ternyata ada RUH (milik) TUHAN (MIN-RUHI) yang dialirkan Tuhan ke dalam diri (nafs) Adam yang memang sangatlah mewakili kehebatan Tuhan.

Dan pada puncaknya, Allah masih saja memberikan pedoman kepada umat manusia tentang ciri-ciri orang yang sudah berada dalam kesadaran AR RUH ini. AR RUH inilah yang akan dapat merasakan satu malam kemulyaan yang kadarnya adalah seribu bulan (sekitar 83 tahun). Ya…, seumur manusia itu sendirilah…!.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?.
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun MALAIKAT-MALAIKAT dan RUH dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
(Al Qadar 1-5)

Catatan:
Silahkan sajalah bagi bapak-bapak atau ibu-ibu yang mulia untuk memakai terjemahan bahwa AR RUH dalam surat Al Qadar ini mau ditafsirkan sebagai JIBRIL. Silahkan saja. Nggak usah diperdebatkanlah…!.

Jadi hakekat malam seribu bulan (Lailatul Qadar) itu hanya akan dapat dimengerti dan dipahami oleh MALAIKAT dan juga oleh orang-orang yang sudah menyadari bahwa dirinya yang hakiki adalah AR RUH yang diutus oleh Tuhan ke muka bumi ini untuk mewakili Tuhan dalam merangkai dan menganyam peradaban umat manusia.

Dalam menjalankan tugasnya, AR RUH telah diperlengkapi pula dengan sebuah kereta delman berikut dengan empat ekor kuda gagah perkasa (AN NAFS) sebagai alat atau sarana bagi AR RUH dalam menjalankan tugas kekhalifahannya itu dengan cara yang unik. Sedangkan Malaikat disebut juga sebagai Makhluk Tuhan yang sudah mempunyai tugas masing-masing sebagai wakil Tuhan yang lain dalam mengatur alam semesta ini juga dengan cara-cara mereka sendiri pula yang akan mereka jalankan dengan patuh.

Dan…, MALAIKAT-MALAIKAT bersama-sama dengan ORANG-ORANG yang sudah menyadari kesejatian dirinya sebagai AR RUH inilah yang akan bisa menebarkan keselamatan, kesejahteraan dari Tuhan buat umat manusia di sekitarnya.

MENGGAPAI KESADARAN AR RUH …

Untuk menggapai kesadaran AR RUH ini…, maka kita diberikan kesempatan yang sangat besar oleh Allah selama bulan Ramadhan penuh. Ya…, selama bulan Ramadhan. Bisa dimulai sejak dari awal Ramadhan sampai dengan diakhir Ramadhan. Boleh jadi seseorang bisa mendapatkan pencerahan (di-shibgah atau dicelup Allah) dan ditarok oleh Allah ke dalam suasana Lailatul Qadar itu diawal-awal Ramadhan, sehingga hari-hari berikutnya dibulan Ramadhan itu akan dilewatinya dengan suasana dan kesyahduan Lailatul Qadar pula. Boleh jadi pula ada yang diberi BURHAN oleh Allah untuk kemudian diletakkan Allah kedalam suasana malam seribu bulan itu pada paruh 10 hari kedua bulan Ramadhan. Dan waktu-waktu yang termasyhur lainnya Allah saat menuntun kita memasuki Laitalul Qadar itu adalah pada sepuluh hari terakhir, terutama pada malam-malan ganjilnya.

Jadi semua pencapaian itu terserah kepada Allah saja sebenarnya. Dan hasil semuanya itu juga adalah pengalaman orang per orang yang sangat pribadi sekali sifatnya. Boleh jadi ada orang yang dicerahkan Allah pada awal Ramadhan, ada yang dipertengahan Ramadhan, dan ada yang diakhir Ramadhan, atau bahkan pula orang yang tidak disentuh oleh pencerahan Allah sedikitpun. Pengalaman masing-masing orang saat pencerahan itu didapatkannya juga sangat pribadi sekali sifatnya. Semuanya itu benar-benar tergantung kepada seberapa teguhnya kita merendahkan diri dihadapan Allah dan seberapa lurusnya kita mengarahkan kesadaran kita kepada Allah.

Makanya pada saat akhir Ramadhan suasana orang-orang yang berhasil menjalankan puasa dengan sempurna dan menemukan kesadaran tentang dirinya yang hakiki, yaitu AR RUH, digambarkan sebagai orang-orang yang kembali berada dalam suasana diri yang FITRAH.

YA…, IDUL FITRI pada hakekatnya adalah hari kemenangan dimana kita akan dituntun oleh Allah sendiri untuk bisa menyadari bahwa KITA YANG SEJATI adalah:

– RUH yang suci,
– RUH yang dihembuskan yang berasal dari ILAHI…!.
– RUH yang akan bertindak sebagai Sang Kusir dalam mengendalikan larinya AN NAFS yang ibaratnya adalah delman yang ditarik oleh empat ekor kuda gagah perkasa yang siap berlari kencang menuju tujuan yang telah digariskan oleh Allah.
– RUH yang mengendalikan kuda-kuda Ammarah, Lawwamah, Sufiyah, dan Muthmainnah tersebut dengan tali RAHMAT dari Tuhan.
– RUH yang dituntun dan dicerahkan oleh Allah untuk memasuki suasana malam seribu bulan yang penuh kemulyaan itu, Lailatul Qadar

Sedangkan TUBUH KITA LENGKAP DENGAN SEGALA SIFAT-SIFAT DAN DORONGAN-DORONGAN YANG ADA PADANYA (AN NAFS dan AL HAWA UN NAFS) hanyalah atom-atom yang tersusun begitu sempurna yang saling berikatan dan berkaitan dengan atom-atom lain di sekitar kita. Bahwa tubuh kita saling berikatan dengan materi-materi lainnya. Bahwa kita adalah sama, satu tubuh dengan alam semesta.

Ya…, sadarkanlah bahwa kita ini adalah makro kosmos, yang bergerak bersama-sama dengan gerak alam semesta. Semua bergerak karena ADA Kehendak Yang Maha Suci, Yang Maha Hidup. Subhanallah…, ternyata aku adalah debu-debu yang diterbangkan oleh Kehendak Yang Cerdas, Yang Maha Mengerti kemana-mana sesuai dengan Kehendak-Nya sendiri.

Oooh…, ternyata aku adalah RUH yang tidak bisa digambarkan…!. Badanku ternyata luas tak terbatas…, Badanku Luas Tak Terbatas…!, Badanku Alam Semesta…!.
Ooohhh…, inilah keabadian RUH yang bersifat ketuhanan…!!,
Dan…, inilah akhir ramadhan yang sebenarnya…!. Semoga ada yang bisa merasakan kesadaran ini, agar puasa yang kita lakukan menjadi pekerjaan yang tidak sia-sia…!. Amien…!.

Menebar Do’a…
Kalaupun akhir Ramadhan ini kita masih jauh dari kesadaran AR RUH seperti ini, maka tidak ada salahnya kita sejenak merendahkan diri dihadapan Allah:

Semoga saja kita masih dipertemukan-Nya dengan Ramadhan yang akan datang.
Semoga saja kita masih diberi-Nya kesempatan untuk menyadari kesejatian diri kita ini disuatu saat nantinya, entah kapan…
Semoga kita masih diberikan-Nya kesempatan untuk memasuki kefitrahan diri kita sendiri…!.
Semoga saja Allah masih MAU menuntun dan memasukkan diri kita yang kotor dan tertatih-tatih ini ke dalam suasana malam kemulyaan seribu bulan, Lailatul Qadar…!.
Wahai Tuhan-ku, kepada siapa lagi saya harus meminta kalau tidak kepada-Mu…???!. Amien ya Allah…!.

Subhanallah…!, Subhanallah…!, Subhanallah…!,
Alhamdulillah…!, Alhamdulillah…!, Alhamdulillah…!,
Laa ilaha illa Allah…!, Laa ilaha illa Allah…!, Laa ilaha illa Allah…!,
Allahu Akbar…!, Allahu Akbar…!, Allahu Akbar…!,

Asyhaduanla ilaha illaallah, wa asyhaduanna muhammadan rasulullah…!
Allahumma shalli ‘ala Muhammmad wa ‘ala alihi wasahbihi adjma’iin….!.

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh…, wahai para sahabatku semua…!.
Wallahu a’lam

5 thoughts on “YANG NYARIS TERLUPAKAN …….!!!

    Agus Suhanto said:
    4 Oktober 2009 pukul 07:20

    halo, senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, posting yg menarik🙂 … salam kenal yaa

      Irawan responded:
      31 Maret 2011 pukul 19:57

      Salam Kenal juga Bpk. Agus… Terima Kasih atas komentarnya. Smg bermanfaat n membawa ukhuwah.

    online2you responded:
    5 Oktober 2009 pukul 09:05

    Sama-sama mas Agus Suhanto, kenal balik dan salam buat Anda… Semoga Silaturahmi kita membawa berkah pada kita masing-masing…. Amiin.

    Saya sekedar berbagi artikel… semoga yang asli membuat mendapat pahala dari ilmu yang sudah dituangkan diatas….

    genduk said:
    30 Desember 2010 pukul 21:58

    heemm,,,
    ayahku sungguh hebat….

      Irawan responded:
      4 Januari 2011 pukul 09:29

      Ayah yang mana ya… ?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s